Thursday, May 6, 2010

Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah


Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh para sahabat beliau.

Allah ta’ala berfirman :

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. Ar-Radd : 41)

Atha’ -rahimahullah- berkata : “Makna ayat ini : “lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya”, adalah kematian para ulamanya”.

Ibnu Abdil Bar -rahimahullah- berkata : “Pendapat Atha’ dalam menafsirkan ayat ini sangat baik, para ulama menyepakatinya”.

Dan kematian seorang ahli ilmu (ulama) merupakan bencana bagi Islam dan lebih besar pengaruhnya bagi umat daripada ketiadaan pangan dan minuman yang menimpa mereka, karena umat membutuhkan ilmu setiap waktu, sedangkan pangan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali dalam sehari.

Dan kematian para ulama adalah sebab terangkatnya ilmu syariat, sebagaimana sabda Nabi :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِعِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga jika tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan”. (HR. Bukhari dalam kitabul ilmi)

Ya Allah selamatkanlah agama kami yang merupakan pokok urusan kami …
Dan berilah kami pahala dari musibah yang menimpa kami, dan berilah ganti yang lebih baik darinya…amin

1. Nama, tempat dan tanggal lahir

Beliau seorang ahli hadits yang fakih, ulama terkemuka, ahli fatwa dan pemimpin para ulama. Nama lengkap beliau adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah al-Baaz, nama kunyah/julukannya adalah Abu Abdillah. Beliau dilahirkan di kota Riyadh ibukota kerajaan Saudi Arabia pada 12 Dzulhijjah tahun 1330 H, dari kecil hingga lanjut usia beliau hidup di kota itu, dan tidak pernah keluar dari nya kecuali untuk menunaikan haji atau umrah.

Al-Imam Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baaz adalah salah seorang ulama yang masyhur dan seorang alim di Jazirah al-Arabiyyah yang fatwa-fatwa dan karya-karyanya diterima dengan baik oleh masyarakat. Ratusan penuntut ilmu belajar kepada beliau.

2. Keluarga dan menimba ilmu

Keluarga beliau adalah keluarga yang terkenal dengan ilmu dan perdagangan, pertanian dan dikenal akan keutamaan dan akhlaknya. Asal mereka dari Madinah. Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz hidup dalam lingkungan ilmu, petunjuk dan kebaikan, amat jauh dari keduniaan dan perhiasannya yang menipu. Kota Riyadh pada waktu itu adalah kota ilmu dan petunjuk, di kota tersebut banyak tinggal para ulama terkemuka dan tokoh agama yang menyerukan dakwah kembali kepada al-Qur’an dan sunnah Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam-. Suasana kota Riyadh pada saat itu aman dan stabil, setelah Raja Abdul Aziz -rahimahullah- datang dan bermukim di Riyadh serta menerapkan hukum yang adil, yang dibangun di atas syariat Islam setelah sebelumnya kota itu dalam kekacauan yang tidak ada akhirnya.

Demikianlah, Syaikh Bin Baaz tumbuh dan berkembang dalam lingkungan ilmu, maka tidak diragukan lagi bahwa al-Qur’anul Karim adalah cahaya yang menerangi kehidupan beliau, al-Qur’an adalah lambang keselamatan dan kesuksesan. Maka beliau memulai mempelajari al-Qur’an, sebagaimana adat kebiasaan para ulama salaf rahimahumullah, dimana mereka menjadikan al-Qur’an sebagai dasar ilmu mereka, mereka hafalkan dan mempelajarinya, memperhatikan hukum-hukum dan tafsirnya. Dari sana, mereka mempelajari ilmu syariat lainnya.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz telah menghafal al-Qur’an di luar kepala sebelum baligh, beliau sangat menjaga hafalan dan memantapkannya. Setelah mempelajari al-Qur’an, beliau menuntut ilmu kepada para ulama di daerah Najd dengan kesungguhan, lapang jiwa dan sabar. Syaikh Bin Baaz pernah menyebutkan dalam ceramah beliau, bahwa ibunya mempunyai andil besar dalam mengarahkan beliau menuntut ilmu syar’i serta sabar dalam menekuninya. Ibu beliau senantiasa mendorong dan menganjurkan beliau untuk terus menuntut ilmu dan berusaha memperolehnya dengan kesungguhan.

Setelah nampak bahwa beliau pandai dalam ilmu agama dan bahasa Arab, beliau ditunjuk menjadi hakim pada tahun 1357 H, dan beliau terus menerus menuntut ilmu sepanjang hidupnya, mengadakan penelitian serta mengajar malam dan siang. Kedudukan beliau tidak menyibukkan beliau dari kegiatan ilmiah, hingga hal ini menjadikan beliau kokoh dan mendalam pengetahuannya dalam berbagai ilmu. Beliau amat perhatian terhadap hadits beserta ilmunya, hingga pendapat beliau dalam pen-shahihan dan pen-dhaifan hadits dijadikan rujukan. Kedudukan ini sedikit dicapai oleh para ulama, khususnya pada zaman ini.

3. Mengalami kebutaan

Awalnya Syaikh Bin Baaz tidak buta, kemudian dengan hikmah Allah, mata beliau berangsur-angsur melemah lantaran sakit yang menimpa kedua matanya pada tahun 1346 H, lalu pada tahun 1350 H beliau mengalami kebutaan total. Usia beliau saat itu hampir duapuluh tahun. Akan tetapi, yang demikian itu tidak menjadikan beliau meninggalkan atau berkurang semangat dan tekad beliau dalam mencari ilmu. Justru beliau terus menuntut ilmu dari para ulama yang shalih, hingga beliau dapat mengambil faedah yang banyak dari mereka. Para ulama itu memberi pengaruh dalam kehidupan beliau, dalam pandangannya yang lurus, ilmu yang bermanfaat, bersemangat dalam mencapai hal-hal yang bernilai, tumbuh dalam keutamaan, berakhlak mulia dan pendidikan yang terpuji, dan hal-hal yang memberikan andil yang besar bagi beliau dalam meneruskan menuntut ilmu. Dan hal yang patut diketahui, bahwa Syaikh Bin Baaz banyak mendapatkan banyak faedah dari kebutaan beliau diantaranya :

Pertama :
Mendapatkan balasan yang baik dan pahala yang banyak dari Allah -subhanahu wa taala-. Imam Bukhari -rahimahullah- meriwayatkan dalam shahih Bukhari dalam hadits Qudsi bahwasanya Allah ta’ala berfirman :

إِذَا اِبْتَلَيْتُ عَبْدِي بِفَقْدِ حَبِيْبَتَيْهِ عَوَّضْتُهُمَا الْجَنَّةَ

“Jika aku menguji hamba-Ku dengan kehilangan kedua matanya, aku akan mengganti keduanya dengan surga”. (HR Bukhari)

Kedua :
Kekuatan dalam mengingat dan kecerdasan luar biasa, Syaikh Bin Baaz v adalah seorang ulama ahli hadits pada zaman ini. Jika anda bertanya tentang suatu hadits yang terdapat di al-Kutubussitt’ah , Musnad Ahmad atau kitab-kitab hadits lainnya, anda akan dapati bahwa beliau hafal baik nash hadits, maupun sanad periwayatannya, penjelasannya dll.

Ketiga :
Beliau terhalaukan dari keindahan dunia dan fitnahnya. Syaikh Bin Baaz adalah seorang yang berlaku zuhud di dunia dan bersikap hati-hati, serta mengarahkan hatinya ke negeri akhirat, bersikap tawadhu dan berendah diri dihadapan Allah -subhanahu wa taala-.

Keempat :
Beliau banyak mengambil faedah dari kebutaan yang beliau alami, dimana beliau berusaha dengan keras dalam menuntut ilmu, menguatkan kesabaran dalam meniti jalannya hingga menjadi ulama terkemuka yang dikenal akan ilmu dan pemahamannya, serta kuat dalam berdalil. Allah -azza wa jalla- telah mengganti cahaya kedua mata beliau dengan cahaya pada hati beliau, cinta pada ilmu, menempuh sunnah, dan berjalan di atas petunjuk serta kecerdasan dalam hati.

4. Kesibukan dalam mengajar

Syaikh bin Baaz -rahimahullah- melihat bahwa pekerjaannya sebagai kepala hakim telah menyibukkannya dari mengajar dan ilmu, maka beliaupun meninggalkan pekerjaan sebagai kepala hakim dan menjadi dosen di Riyadh di kuliah syariah. Beliau menyampaikan pelajarannya langsung tanpa persiapan karena hafalannya yang sangat kuat, dan beliau amat dicintai oleh para muridnya.

Kemudian setelah itu, beliau menjadi rektor Universitas Islam di kota Madinah, berkumpul dengan para dosennya dan memberikan pengarahan yang baik untuk berlaku lembut dalam bermuamalah serta perhatian dalam memberikan ilmu. Beliau mengucapkan salam kepada para mahasiswa, jika berjalan melalui kelas-kelas dan mendengarkan permasalahan yang disampaikan mereka. Terkadang, beliau memberikan ceramah-ceramah. Pintu perpustakaan beliau terbuka untuk penuntut ilmu, dan inilah keistimewaan beliau yang banyak tidak dilakukan para ulama dan mereka yang memiliki perpustakaan, dimana mereka tutup perpustakaan mereka dari para penuntut ilmu dan kaum muslimin.

5. Akhlak Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz

Syaikh Bin Baaz adalah seorang yang memiliki kewibawaan, dimana sosok kemuliaan para ulama adalah dari kewibawaan mereka, disamping kedudukan tinggi yang mereka miliki. Sikap berwibawa pada diri beliau ini, Allah tanamkan pada hati manusia ketika melihatnya, dan hal ini tumbuh dari kecintaan, pengagungan dan penghormatan padanya, bukan timbul dari rasa takut pada beliau. Bahkan Syaikh Bin Baaz -rahimahullah- mewajibkan dirinya untuk berlaku hormat dan berakhlak mulia pada mereka, hingga hal ini menjadikan mereka segan dan malu pada beliau, dan mereka sangat menghormati beliau.

Dan hal yang menambah kewibawaan beliau adalah beliau menjauhi ucapan jelek dan buruk serta hal-hal yang menodai rasa malu. Hampir-hampir anda tidak akan mendapati dalam majelis beliau tawa canda kecuali sedikit, tetapi anda akan dapati dalam majelis beliau penuh dengan dzikir kepada Allah, dan memikirkan hal-hal akhirat.

Barangkali hal yang menonjol pada diri Syaikh Bin Baaz adalah sikap zuhud beliau -rahimahullah-, padahal beliau memiliki kekayaan. Namun, beliau berpaling dari dunia dan lebih mendahulukan akhirat, karena beliau mengetahui bahwa akhirat adalah negeri yang kekal dan dunia adalah tempat yang tidak kekal. Beliau mengikuti jejak zuhud para salafus shalih rahimahumullah yang merupakan manusia yang paling jauh dari dunia dan keindahannya, padahal mereka mampu. Syaikh Bin Baaz -rahimahullah- adalah sosok panutan, ulama yang patut diikuti, suri tauladan dalam zuhud, wara’, lari dari manisnya pujian. Berapa kali dalam ceramah, ketika pembukaan acara banyak orang memuji perangai dan kedudukan beliau, tapi beliau berkata:

لَقَدْ قَصَمْتَ ظَهْرَ أَخِيْكَ، وَإِيَّاكُمْ وَالتَماَدُحَ فَإِنَّهُ الذَبْحُ، اَللَّهُمَّ اِجْعَلْنِي خَيْرَا مِمَّا يَظُنُّوْنَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Engkau telah memecah punggung saudaramu, waspadalah kalian dari saling memuji karena itu adalah penyembelihan, ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka duga, dan ampunilah aku dari hal yang tidak mereka ketahui”.

Dengan kata-kata yang bercahaya ini, serta bimbingan yang lurus, kami melihat beliau sangat tidak menyukai pujian. Hal ini menunjukkan akan sikap zuhud dalam hati, serta kemuliaan dalam jiwa, kesucian dalam anggota tubuh, dan rasa takut kepada Allah.

6. Ahli dan fasih dalam berbahasa arab

Syaikh Bin Baaz termasuk salah seorang ulama yang fasih dan menonjol dalam ilmu bahasa Arab. Hal ini Nampak dari karya-karya dan ceramah-ceramah beliau. Gaya bahasa beliau mudah dimengerti, manis, ringkas dan jelas.

7. Kuat dalam hafalan

Diantara hal yang menunjukkan akan kuatnya hafalan Syaikh Bin Baaz, adalah suatu kali beliau pernah ditanya tentang hadits-hadits dalam kutubussittah dan kitab hadits lainnya, lalu beliau menjawabnya dengan menyebutkan secara detail hadits-hadits itu, dari sisi periwayat, kritikan terhadap sanadnya, dan bagaimana pendapat ulama tentangnya. Beliau adalah salah seorang yang diberi karunia Allah dengan kemampuan menghafal shahih Bukhari dan Muslim.

Demikian juga diantara hal yang menunjukkan kecerdasan beliau, ketika berkutbah maupun ceramah, beliau banyak mengutip ayat-ayat al-Qur’an dan hadits nabi, ucapan para ulama sesuai dengan teksnya.

Demikian pula, diantara hal yang menunjukkan kecerdasannya, beliau mampu membedakan suara-suara orang-orang yang mencintai beliau dari kalangan penuntut ilmu yang mengucapkan salam pada beliau, padahal jumlah mereka banyak.

Syaikh bin Baaz termasuk tokoh dari kalangan ulama yang memberikan fatwa di dunia Islam, beliau banyak ikut serta dan menyampaikan ceramah di berbagai muktamar. Karya beliau banyak dan bermanfaat. Beliau ahli bahasa Arab, ilmu faraid (warisan), dan ilmu hadits beserta para periwayatnya. Beliau banyak membaca “tahdzib at-Tahdzib” karya Ibnu Hajar. Beliau pernah berkata kepada penuntut ilmu yang mencintai beliau : “Saya hafal sekitar 80 % kitab ini”. Dan beliau telah mempelajari berkali-kali kitab “Fathul Bari” serta meneliti hadits-haditsnya bersama Syaikh Muhibbundin al-Khattib dan Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi rahimahumullah.

8. Sifat dermawan

Beliau tidak pernah menolak suatu permintaan, sebagian penuntut ilmu menceritakan bahwa salah seorang mujahidin mendatangi beliau (meminta bantuan), saat itu Syaikh Bin Baaz tidak memiliki kecuali barang yang dianggap penting oleh beliau, lalu beliau menjual dan memberikan hasil jualannya di jalan Allah. Dan terlihat kedermawanan beliau saat berkumpulnya berbagai kalangan (manusia) dalam hidangan meja makan beliau. Hadir di dalamnya para ulama, penuntut ilmu, para pemikir, sastrawan, orang-orang awam, orang-orang fakir dan miskin serta para musafir. Beliau menyambut semuanya, dan ini suatu yang diketahui dan tidak perlu dibuktikan kebenarannya karena diketahui banyak orang.

9. Aktivitas keseharian

Syaikh Bin Baaz memulai kegiatannya saat hampir tiba waktu subuh, lalu shalat subuh di masjid beliau, setelah shalat beliau membaca dzikir-dzikir setelah subuh kemudian menyampaikan pelajaran hingga matahari terbit. Pelajaran yang banyak diajarkan Syaikh Bin Baz adalah kitab “Fathul Bari”, “Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah”, “Bulughul Maram”, “Kutubussittah”, “Syarh at-Thahawi” dan lainnya. Selesai darinya, beliau shalat dua rakaat lalu kembali ke rumahnya. Setelah itu, beliau pergi ke perpustakaan, sesampai di sana beliau akan mendapati orang-orang yang akan memasuki perpustakaan menunggu beliau. Kemudian beliau mengucapkan salam dan beramah tamah dengan mereka, berdialog, menjawab permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi. Disamping itu, beliau menjawab permasalahan melalui telepon dari dalam dan luar negeri Saudi Arabia dari individu maupun lembaga-lembaga tanpa merasa jemu dan bosan.

Setelah itu, beliau shalat dzuhur berjamaah kemudian kembali bekerja. Ketika jam menunjukkan 2 siang, beliau pulang ke rumah, dan di sana para tamu beliau telah menunggu. Beliaupun makan siang bersama-sama dengan tamunya, setelah itu shalat ashar. Terkadang beliau memberikan ceramah singkat setelah shalat ashar kemudian pulang ke rumahnya. Pada waktu maghrib beliau pergi shalat di masjid, kemudian pulang ke rumah untuk membaca dan mencermati masalah umat hingga waktu isya’. Dan majelis beliau tidak pernah sepi dari orang-orang yang mengunjungi beliau.

10. Karya tulis (karya tulis beliau ini ditulis oleh para muridnya, dengan persetujuannya)

• الأدلة الكاشفة لأخطاء بعض الكتاب.

• الأدلة النقلية والحسية على إمكان الصعود إلى الكواكب وعلى جريان الشمس وسكون الأرض.

• إقامة البراهين على حكم من استغاث بغير الله أو صدق الكهنة والعرافين.

• الإمام محمد بن عبد الوهاب: دعوته وسيرته.

• بيان معنى كلمة لا إله إلا الله.

• التحقيق والإيضاح لكثير من مسائل الحج والعمرة والزيارة على ضوء الكتاب والسنة.

• تنبيهات هامة على ما كتبه محمد علي الصابوني في صفات الله عز وجل.

• العقيدة الصحيحة وما يضادها

• الدعوة إلى الله.

• تنبيه هام على كذب الوصية المنسوبة إلى الشيخ أحمد.

• وجوب العمل بالسنة وكفر من أنكرها.

• الدعوة إلى الله سبحانه وأخلاق الدعاة.

• الرسائل والفتاوى النسائية: اعتنى بجمعها ونشرها أحمد بن عثمان الشمري.

• الفتاوى.

• فتاوى إسلامية – ابن باز – ابن عثيمين – ابن جبرين.

• فتاوى تتعلق بأحكام الحج والعمرة والزيارة.

• فتاوى المرأة لابن باز واللجنة الدائمة جمع وترتيب محمد المسند.

• فتاوى مهمة تتعلق بالحج والعمرة.

• فتاوى وتنبيهات ونصائح.

• الفوائد الجلية في المباحث الفرضية.

• مجموع فتاوى ومقالات متنوعة أشرف على تجميعه وطبعه د. محمد بن سعد الشويعر. من 1- 12 طبعة دار الإفتاء.

• مجموعة رسائل في الطهارة والصلاة والوضوء.

• مجموعة الفتاوى والرسائل النسائية.

• نقد القومية العربية على ضوء الإسلام والواقع.

• شرح الأصول الثلاثة

1. Dalil-dalil yang mengungkap kesalahan sebagian kitab
2. Dalil dari al-Qur’an dan kenyataan yang menunjukkan mungkinnya naik ke bintang-bintang serta beredarnya matahari dan bumi tidak berputar
3. Penegakkan hujjah atas mereka yang beristhigatsah kepada selain Allah dan yang membenarkan para dukun dan tukang ramal.
4. Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab : dakwah dan sejarahnya
5. Penjelasan makna laa ilaa ha illallah
6. Penjelasan seputar permasalahan haji, umrah dan ziarah berdasarkan al-Qur’an dan sunnah
7. Peringatan penting terhadap karya Muhammad Ali as-Shobuni seputar sifat-sifat Allah
8. Aqidah yang benar dan hal-hal yang menyelisihinya
9. Dakwah kepada agama Allah
10. Peringatan penting atas dustanya wasiat yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad
11. Wajibnya beramal sesuai dengan sunnah dan kekafiran orang yang mengingkarinya
12. Dakwah kepada Allah dan akhlak para dai
13. Risalah dan fatwa-fatwa tentang permasalahan wanita : dihimpun oleh Ahmad bin Utsman asy-Syamiri
14. Fatwa-fatwa
15. Fatwa-fatwa tentang Islam oleh Syaikh Bin Baz, Syaikh ibnu Utsaimin dan Syaikh bin Jibrin
16. Fatwa-fatwa berhubungan dengan hukum-hukum haji, umrah dan ziarah
17. Fatwa-fatwa wanita oleh Syaikh Bin Baz dan lembaga majelis ulama Saudi Arabia dihimpun oleh Muhammad al-Musnad
18. Fatwa-fatwa penting seputar haji dan umrah
19. Fatwa-fatwa, peringatan serta nasehat
20. Faedah yang besar dalam masalah-masalah yang wajib
21. Kumpulan fatwa dan makalah dihimpun oleh Doktor Muhammad bin Sa’ad asy-Syuwair jilid 1-12 cetakan Daarul ifta.
22. Kumpulan risalah dalam permasalahan bersuci, shalat dan wudhu.
23. Kumpulan fatwa dan risalah tentang wanita
24. Kritikan atas fanatik kesukuan berdasarkan agama Islam dan kenyataan
25. Penjelasan kitab al-Ushulul ats-Tsalaasah

sumber : Majalah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah Ed 29, hal. 37-43

Bidadari untuk kaum Pria, Bagaimana dengan kaum wanita?

Oleh :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Disebutkan bahwa kaum laki-laki akan memperoleh bidadari di jannah, lalu bagi kaum wanitanya ?

Jawaban :
Allah Tabaraka Wa Ta'ala berfirman mengenai nikmat yang diperoleh bagi ahli jannah.

"Artinya : Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [QS Fushilat : 31-32]

"Artinya : Di dalam jannah itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal didalamnya". [QS Az-Zukhruf : 71]

Sudah maklum juga bahwa 'zuwaj' atau Nikah merupakan termasuk hal yang diinginkan oleh hati dan ini bisa didapatkan oleh ahli surga, baik yang laki-laki mupun wanita. Kaum wanita dipasangkan oleh Allah di dalam jannah dengan suaminya yang dahulu dalam hidupnya di dunia.

Allah Ta'ala berfirman.

"Artinya : Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [QS Ghafir : 8]

Sumber : Kitab Fatawa 'Anil Iman wa Arkaniha, oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud (Soal-Jawab Masalah Iman dan Tauhid) Pustaka At-Tibyan

Jangan Marah, Kamu Akan Masuk Surga

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh: al-Bukhâri (no. 6116), Ahmad (II/362, 466, III/484), at-Tirmidzi (no. 2020), Ibnu Hibban (no. 5660-5661 dalam at-Ta’lîqâtul Hisân), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabîr (II/261-262, no. 2093-2101), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (no. 25768-25769), ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (no. 20286), al-Baihaqi dalam Syu’abul-Îmân (no. 7924, 7926), al-Baihaqi dalam as-Sunanul-Kubra (X/105), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (XIII/159, no. 3580).

SYARAH HADITS
Sahabat yang meminta wasiat dalam hadits ini bernama Jariyah bin Qudamah Radhiyallahu 'anhu. Ia meminta wasiat kepada Nabi dengan sebuah wasiat yang singkat dan padat yang mengumpulkan berbagai perkara kebaikan, agar ia dapat menghafalnya dan mengamalkannya. Maka Nabi berwasiat kepadanya agar ia tidak marah. Kemudian ia mengulangi permintaannya itu berulang-ulang, sedang Nabi tetap memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa marah adalah pokok berbagai kejahatan, dan menahan diri darinya adalah pokok segala kebaikan.

Marah adalah bara yang dilemparkan setan ke dalam hati anak Adam sehingga ia mudah emosi, dadanya membara, urat sarafnya menegang, wajahnya memerah, dan terkadang ungkapan dan tindakannya tidak masuk akal.

DEFINISI MARAH
Marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang dikhawatirkan terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang menimpakan gangguan yang terjadi padanya.

Marah banyak sekali menimbulkan perbuatan yang diharamkan seperti memukul, melempar barang pecah belah, menyiksa, menyakiti orang, dan mengeluarkan perkataan-perkataan yang diharamkan seperti menuduh, mencaci maki, berkata kotor, dan berbagai bentuk kezhaliman dan permusuhan, bahkan sampai membunuh, serta bisa jadi naik kepada tingkat kekufuran sebagaimana yang terjadi pada Jabalah bin Aiham, dan seperti sumpah-sumpah yang tidak boleh dipertahankan menurut syar’i, atau mencerai istri yang disusul dengan penyesalan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqâlani rahimahullah berkata, “Adapun hakikat marah tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabi’at yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan manusia.”[1]

Yang dimaksud dengan hadits di atas adalah marah yang dilakukan karena menuruti hawa nafsu dan menimbulkan kerusakan.

Di dalam Al-Qur`ân Karim disebutkan bahwasanya Allah marah. Adapun marah yang dinisbatkan kepada Allah Ta’ala Yang Mahasuci adalah marah dan murka kepada orang-orang kafir, musyrik, munafik, dan orang-orang yang melewati batas-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

"Dan Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (adzab) yang buruk, dan Allah murka kepada mereka dan mengutuk mereka, serta menyediakan neraka Jahannam bagi mereka. Dan (neraka Jahannam) itu seburuk-buruk tempat kembali". [al-Fath/48 : 6] [2]

Di dalam hadits yang panjang tentang syafaat disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat marah yang belum pernah marah seperti kemarahan saat itu baik sebelum maupun sesudahnya.[3]

Setiap muslim wajib menetapkan sifat marah bagi Allah, tidak boleh mengingkarinya, tidak boleh ditakwil, dan tidak boleh menyamakan dengan sifat makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

"…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat" [asy-Syûrâ/42 : 11]

Sifat marah bagi Allah Azza wa Jalla merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan bagi Allah, dan ini merupakan manhaj Salaf yang wajib ditempuh oleh setiap muslim.

Adapun marah yang dinisbatkan kepada makhluk; ada yang terpuji ada pula yang tercela. Terpuji apabila dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dalam membela agama Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas, membela hak-hak-Nya, dan tidak menuruti hawa nafsu, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau marah karena ada hukum-hukum Allah dan syari’at-Nya yang dilanggar, maka beliau marah. Begitu pula marahnya Nabi Musa Alaihissalam [4] dan marahnya Nabi Yunus Alaihissalam [5]. Adapun yang tercela apabila dilakukan karena membela diri, kepentingan duniawi, dan melewati batas.

Dalam hadits di atas disebutkan larangan marah karena marah mengikuti emosi dan hawa nafsu yang pengaruhnya membawa kepada kehancuran dan kebinasaan.

Ja’far bin Muhammad rahimahullah mengatakan, “Marah adalah pintu segala kejelekan.” Dikatakan kepada Ibnu Mubarak rahimahullah, “Kumpulkanlah untuk kami akhlak yang baik dalam satu kata!” Beliau menjawab, “Meninggalkan amarah.” Demikian juga Imam Ahmad rahimahullah dan Ishaq rahimahullah menafsirkan bahwa akhlak yang baik adalah dengan meninggalkan amarah.

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Engkau jangan marah “ kepada orang yang meminta wasiat kepada beliau mengandung dua hal.

Pertama. Maksud dari perintah beliau ialah perintah untuk memiliki sebab-sebab yang menghasilkan akhlak yang baik, berupa dermawan, murah hati, penyantun, malu, tawadhu’, sabar, menahan diri dari mengganggu orang lain, pemaaf, menahan amarah, wajah berseri, dan akhlak-akhlak baik yang semisalnya.

Apabila jiwa terbentuk dengan akhlak-akhlak yang mulia ini dan menjadi kebiasaan baginya, maka ia mampu menahan amarah, pada saat timbul berbagai sebabnya.

Kedua. Maksud sabda Nabi ialah, “Engkau jangan melakukan tuntutan marahmu apabila marah terjadi padamu, tetapi usahakan dirimu untuk tidak mengerjakan dan tidak melakukan apa yang diperintahnya.” Sebab, apabila amarah telah menguasai manusia, maka amarah itu yang memerintah dan yang melarangnya.

Makna ini tercermin dalam firman Allah Ta’ala:
"Dan setelah amarah Musa mereda… " [al-A’râf/7 : 154]

Apabila manusia tidak mengerjakan apa yang diperintahkan amarahnya dan dirinya berusaha untuk itu, maka kejelekan amarah dapat tercegah darinya, bahkan bisa jadi amarahnya menjadi tenang dan cepat hilang sehingga seolah-olah ia tidak marah.

Pada makna inilah terdapat isyarat dalam Al-Qur`ân dengan firman-Nya Azza wa Jalla :

"… Dan apabila mereka marah segera memberi maaf" [asy-Syûrâ/42 : 37]

Juga dengan firman-Nya Ta’ala:

"…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan" [Ali ‘Imrân/3 : 134]

Nabi memerintahkan orang yang sedang marah untuk melakukan berbagai sebab yang dapat menahan dan meredakan amarahnya. Dan beliau memuji orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.

Diantara cara yang diajarkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam meredam amarah adalah dengan mengucapkan: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ .

Diriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Kami sedang duduk bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba ada dua orang laki-laki saling mencaci di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seorang dari keduanya mencaci temannya sambil marah, wajahnya memerah, dan urat lehernya menegang, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, aku mengetahui satu kalimat, jika ia mengucapkannya niscaya hilanglah darinya apa yang ada padanya (amarah). Seandainya ia mengucapkan,

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

(Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)". Para sahabat berkata, "Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Rasulullah?" Laki-laki itu menjawab, "Aku bukan orang gila".[6]

Allah Ta’ala memerintahkan kita apabila kita diganggu setan hendaknya kita berlindung kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

"Dan jika setan datang mengodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui" [al-A’râf/7 : 200]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan agar orang yang marah untuk duduk atau berbaring. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.

"Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring" [7].

Ada yang mengatakan bahwa berdiri itu siap untuk balas dendam, sedang orang duduk tidak siap untuk balas dendam, sedang orang berbaring itu sangat kecil kemungkinan untuk balas dendam.

Maksudnya ialah hendaknya seorang muslim mengekang amarahnya dalam dirinya dan tidak menujukannya kepada orang lain dengan lisan dan perbuatannya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia diam, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.

"Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam" [8].

Ini juga merupakan obat yang manjur bagi amarah, karena jika orang sedang marah maka keluarlah darinya ucapan-ucapan yang kotor, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampak negatifnya besar dan ia akan menyesal karenanya ketika marahnya hilang. Jika ia diam, maka semua keburukan itu hilang darinya.

Menurut syari’at Islam bahwa orang yang kuat adalah orang yang mampu melawan dan mengekang hawa nafsunya ketika marah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

"Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah". [9]

Imam Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan bahwa melawan hawa nafsu lebih berat daripada melawan musuh.[10]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ.

"Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah k akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai" [11].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ.

"Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga" [12].

Yang diwajibkan bagi seorang Mukmin ialah hendaklah keinginannya itu sebatas untuk mencari apa yang dibolehkan oleh Allah Ta’ala baginya, bisa jadi ia berusaha mendapatkannya dengan niat yang baik sehingga ia diberi pahalanya karena. Dan hendaklah amarahnya itu untuk menolak gangguan terhadap agamanya dan membela kebenaran atau balas dendam terhadap orang-orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sebagaiman Allah Ta’ala berfirman:

"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan Dia menghilangkan kemarahan hati mereka (orang Mukmin)… " [at-Taubah/9 : 14-15]

Ini adalah keadaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau tidak balas dendam untuk dirinya sendiri. Namun jika ada hal-hal yang diharamkan Allah dilanggar, maka tidak ada sesuatu pun yang sanggup menahan kemarahan beliau. Dan beliau belum pernah memukul pembantu dan wanita dengan tangan beliau, namun beliau menggunakan tangan beliau ketika berjihad di jalan Allah.

‘Aisyah Radhiyallahu 'anha ditanya tentang akhlak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maka ia menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur`ân.”[13] Maksudnya beliau beradab dengan adab Al-Qur`ân, berakhlak dengan akhlaknya. Beliau ridha karena keridhaan Al-Qur`ân dan marah karena kemarahan Al-Qur`ân.

Karena sangat malunya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menghadapi siapa pun dengan sesuatu yang beliau benci, bahkan ketidaksukaan beliau terlihat di wajah beliau, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri , ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit. Apabila beliau melihat sesuatu yang dibencinya, kami mengetahuinya di wajah beliau.”[14]

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diberi tahu Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu tentang ucapan seseorang, “Pembagian ini tidak dimaksudkan untuk mencari wajah Allah.” Maka ucapan itu terasa berat bagi beliau, wajah beliau berubah, beliau marah, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam hanya bersabda:

لَقَدْ أُوْذِيَ مُوْسَى بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ.

"Sungguh Musa disakiti dengan yang lebih menyakitkan daripada ini, namun beliau bersabar" [15].

Apabila Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat atau mendengar sesuatu yang membuat Allah Azza wa Jalla murka, maka beliau marah karenanya, menegurnya, dan tidak diam. Beliau pernah memasuki rumah ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha dan melihat tirai yang terdapat gambar makhluk hidup padanya, maka wajah beliau berubah dan beliau merobeknya lalu bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling keras adzabnya pada hari Kiamat ialah orang yang menggambar gambar-gambar ini.” [16]

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diberi pengaduan tentang imam yang shalat lama dengan manusia hingga sebagian mereka terlambat, beliau marah, bahkan sangat marah, menasihati manusia, dan menyuruh meringankan shalat (supaya tidak memanjangkan shalatnya).[17]

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi was allam melihat dahak di kiblat masjid, beliau marah, mengeruknya, dan bersabda, “Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berada dalam shalat, maka Allah Azza wa Jalla ada di depan wajahnya. Oleh karena itu, ia jangan sekali-kali berdahak di depan wajahnya ketika shalat.”[18]

Diantara do’a yang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam baca ialah:

أَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَى.

"Aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar pada saat marah dan ridha" [19].

Ini sangat mulia, yaitu seorang hanya berkata benar ketika ia marah atau ridha, karena sebagian manusia jika mereka marah , mereka tidak bisa berhenti dari apa yang mereka katakan.

Dari Jabir Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Kami pernah berjalan bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada satu peperangan, dan ada seorang laki-laki berada di atas untanya. Unta orang Anshar itu berjalan lambat kemudian orang Anshar itu berkata, ‘Berjalanlah semoga Allah melaknatmu.’ Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada orang itu, ‘Turunlah engkau dari unta tersebut. Engkau jangan menyertai kami dengan sesuatu yang telah dilaknat. Kalian jangan mendo’akan kejelekan bagi diri kalian. kalian jangan mendo’akan kejelekan bagi anak-anak kalian. Kalian jangan mendo’akan kejelekan bagi harta kalian. Tidaklah kalian berada di satu waktu jika waktu tersebut permintaan diajukan, melainkan Allah Azza wa Jalla akan mengabulkan bagi kalian.”[20]

Ini semua menunjukkan bahwa do’a orang yang marah akan dikabulkan jika bertepatan dengan waktu yang diijabah, dan pada saat marah ia dilarang berdo’a bagi kejelekan dirinya, keluarganya, dan hartanya.

Seorang ulama Salaf t berkata, ”Orang yang marah jika penyebab marahnya adalah sesuatu yang diperbolehkan seperti sakit dan perjalanan, atau penyebab amarahnya adalah ketaatan seperti puasa, ia tidak boleh dicela karenanya,” maksudnya ialah orang tersebut tidak berdosa jika yang keluar darinya ketika ia marah ialah perkataan yang mengandung hardik, caci-maki, dan lain sebagainya, seperti disabdakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia, aku ridha seperti ridhanya manusia dan aku marah seperti marahnya manusia. Orang Muslim mana saja yang pernah aku caci dan aku cambuk, maka aku menjadikannya sebagai penebus (dosa) baginya.”[21]

Sedang jika yang keluar dari orang yang marah adalah kekufuran, kemurtadan, pembunuhan jiwa, mengambil harta tanpa alasan yang benar, dan lain sebagainya, maka orang Muslim tidak ragu bahwa orang marah tersebut mendapat hukuman karena semua itu. Begitu juga jika yang keluar dari orang yang marah adalah perceraian, pemerdekaan budak, dan sumpah, ia dihukum karena itu semua tanpa ada perbedaan pendapat di dalamnya.[22]

Diriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki berkata, “Aku mentalaq istriku dengan talak tiga ketika aku marah.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata, “Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas tidak bisa menghalalkan untukmu apa yang telah Allah haramkan atasmu, engkau telah mendurhakai kepada Rabb-mu, dan engkau mengharamkan istrimu atas dirimu sendiri.”[23]

Diriwayatkan dengan shahih dari banyak Sahabat bahwa mereka berfatwa sesungguhnya sumpah orang yang marah itu sah dan di dalamnya terdapat kaffarat.

Al-Hasan rahimahullah berkata, “Thalaq yang sesuai Sunnah ialah suami mentalaq istrinya dengan talaq satu dalam keadaan suci dan tidak digauli. Suami mempunyai hak pilih antara masa tersebut dengan istrinya selama tiga kali haidh. Jika ia ingin rujuk dengan istrinya, ia berhak melakukannya. Jika ia marah, istrinya menunggu tiga kali haidh atau tiga bulan jika ia tidak haidh agar marahnya hilang.” Al-Hasan rahimahullah berkata lagi, “Allah menjelaskan agar tidak seorang pun menyesal dalam perceraiannya seperti yang diperintahkan Allah.” Diriwayatkan oleh al-Qadhi Isma’il.[24]

BAGAIMANA MENGOBATI AMARAH JIKA TELAH BERGEJOLAK?
Orang yang marah hendaklah melakukan hal-hal berikut:
1. Berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
2. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berdzikir, dan istighfar.
3. Hendaklah diam, tidak mengumbar amarah.
4. Dianjurkan berwudhu’.[25]
5. Merubah posisi, apabila marah dalam keadaan berdiri hendaklah duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk hendaklah berbaring.
6. Jauhkan hal-hal yang membawa kepada kemarahan.
7. Berikan hak badan untuk beristirahat.
8. Ingatlah akibat jelek dari amarah.
9. Ingatlah keutamaan orang-orang yang dapat menahan amarahnya.
Wallâhu a’lam.

FAWA`ID HADITS
1. Semangatnya para Sahabat untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagi mereka.
2. Dianjurkan memberikan nasihat dan wasiat bagi orang yang memintanya.
3. Seorang muslim harus mencari jalan-jalan kebaikan dan keselamatan yang sesuai dengan Sunnah.
4. Mengulangi nasihat memiliki manfaat yang banyak.
5. Larangan dari marah berdasarkan sabda beliau, “Engkau jangan marah!” Sebab, amarah dapat menimbulkan berbagai kerusakan yang besar apabila seseorang berbuat dengan menuruti hawa nafsu untuk membela dirinya.
6. Agama Islam melarang akhlak yang jelek, dan larangan tersebut mengharuskan perintah berakhlak yang baik.
7. Marah merupakan sifat dan tabi’at manusia.
8. Dianjurkan untuk menahan marah dan ini termasuk dari sifat seorang mukmin.
9. Melawan hawa nafsu lebih berat daripada melawan musuh.
10. Dianjurkan menjauhkan hal-hal yang membawa kepada kemarahan.
11. Marah yang terpuji adalah apabila seseorang marah karena Allah, untuk membela kebenaran, dan tidak menuruti hawa nafsu dan tidak merusak.
12. Sabar dan pemaaf adalah sifat orang yang beriman dan berbuat kebajikan.
13. Apabila seseorang marah hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, dan melakukan apa yang disebutkan di atas tentang obat meredam amarah.

Maraaji’:
1. Al-Qur`ân dan terjemahnya.
2. Al-Mu’jamul Ausath lith-Thabrani.
3. Al-Wâfi fî Syarhil Arba’în an-Nawawiyyah, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha.
4. As-Sunanul Kubra lin-Nasâ`i.
5. Bahjatun-Nâzhirîn Syarh Riyâdhish-Shâlihîn, karya Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali.
6. Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhim Bâjis.
7. Kutubus Sab’ah.
8. Mushannaf Ibni Abi Syaibah.
9. Mustadrak al-Hakim.
10. Qawâ’id wa Fawâ`id minal-‘Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nazhim Muhammad Sulthan.
11. Shahiih al-Jâmi’ish Shaghîr.
12. Shahîh Ibni Hibban dengan at-Ta’liqâtul-Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibban.
13. Shahîh at-Targhîb wat-Tarhîb.
14. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah.
15. Sunan ad-Darimi.
16. Sunan al-Baihaqi.
17. Syarhul Arba’în an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Fat-hul Bâri, X/520.
[2]. Lihat juga QS. Thâhaa ayat 81 dan Qs. al-Mumtahanah ayat 13.
[3]. HR al-Bukhâri (no. 3162, 4435), Muslim (no. 194), at-Tirmidzi (no. 2434), Ahmad (II/435), Ibnu Hibban (no. 6431 –at-Ta’lîqâtul Hisân), Ibnu Abi Syaibah (no. 32207), dan an-Nasâ`i dalam As-Sunanul-Kubra (no. 11222).
[4]. Lihat Qs. al-A’râf/7 ayat 150.
[5]. Lihat Qs. al-Anbiyâ` ayat 87.
[6]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 3282, 6048, 6115), Muslim (no. 2610). Penafsiran ucapan “Aku bukan orang gila” silakan lihat Fat-hul Bâri (X/467).
[7]. Shahîh. HR Ahmad (V/152), Abu Dawud (no. 4782), dan Ibnu Hibban (no. 5688) dari Sahabat Abu Dzarr Radhiyallahu 'anhu.
[8]. Shahîh. HR Ahmad (I/239, 283, 365), al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 245, 1320), al-Bazzar (no. 152- Kasyful Astâr) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish-Shaghîr (no. 693) dan Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 1375).
[9]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6114) dan Muslim (no. 2609) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[10]. Lihat Fat-hul-Bâri (X/518).
[11]. Hasan. HR Ahmad (III/440), Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), dan Ibnu Majah (no. 4286) dari Sahabat Mu’adz bin Anas al-Juhani Radhiyallahu 'anhu. Dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 6522).
[12]. Shahîh. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 2374) dari Sahabat Abu Darda Radhiyallahu 'anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 7374) dan Shahîh at-Targhîb wat-Tarhîb (no. 2749).
[13]. Shahîh. HR Muslim (no. 746), Ahmad (VI/54, 91, 111, 188, 216), an-Nasâ`i (III/199-200), Ibnu Majah (no. 2333), dan ad-Darimi (I/345-346).
[14]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6102) dan Muslim (no. 2320).
[15]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 3150, 4336) dan Muslim (no. 1062).
[16]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 5954, 6109) dan Muslim (no. 2107 (91)).
[17]. Shahîh. HR Muslim (no. 466) dari Abu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu 'anhu.
[18]. Shahîh. HR Mâlik dalam al-Muwaththa (I/194), al-Bukhâri (no. 406, 753, 1213, 6111), Muslim (no. 547), Abu Dawud (no. 479), dan an-Nasâ`i (II/51) dari Ibnu ‘Umar c. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhâri (no. 405, 413) dan Muslim (no. 551) dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu 'anhu. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhâri (no. 408, 409) dan Muslim (no. 548) dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[19]. Shahîh. HR Ahmad (IV/264), an-Nasâ`i (III/54-55), dan Ibnu Hibban (no. 1968 –at-Ta’lîqâtul Hisân) dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu 'anhuma.
[20]. Shahîh. HR. Muslim (no. 3009).
[21]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6361), Muslim (no. 2601), dan Ibnu Hibban (no. 6481-6482 –at-Ta’lîqâtul Hisân) dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu
[22]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam (I/375).
[23]. Shahîh. HR. Abu Dawud (no. 2197) dan ad-Daraquthni (IV/13-14, no. 3862).
[24]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam, I/377.
[25]. Ada riwayat tentang hal ini tetapi riwayatnya dha’if.

sumber : http://www.almanhaj.or.id/

Tuesday, May 4, 2010

Kisah Kematian Nabiyullah Adam 'Alaihis Salam

oleh : DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar

Pengantar

Kisah ini memberitakan kepada kita tentang saat-saat terakhir kehidupan bapak kita Adam dan keadaannya pada saat sakaratul maut. Para malaikat memandikannya, memberinya wangi-wangian, mengkafaninya, menggali kuburnya, menshalatkannya, menguburkannya, dan menimbunnya dengan tanah. Mereka melakukan hal itu untuk memberikan pengajaran kepada anak cucu sesudahnya, tentang bagaimana cara menangani orang mati.

Teks Hadis

Dari Uttiy bin Dhamurah As-Sa'di berkata, "Aku melihat seorang Syaikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku bertanya tentangnya." Mereka menjawab, "Itu adalah Ubay bin Ka'ab." Ubay berkata, "Ketika maut datang menjemput Adam, dia berkata kepada anak-anaknya, 'Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah surga.' Lalu anak-anaknya pergi mencari untuknya. Mereka disambut oleh para malaikat yang telah membawa kafan Adam dan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul.

Para Malaikat bertanya, 'Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?' Mereka menjawab, 'Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari surga.' Para malaikat menjawab, 'Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba.' Lalu para malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, maka dia berlindung kepada Adam. Adam berkata kepada Hawa, 'Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan Malaikat Tuhanku Tabaraka wa Taala.' Lalu para malaikat mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya, menshalatinya. Mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di dalamnya, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur, mereka menimbunnya dengan batu. Lalu mereka berkata, 'Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian.'"

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawaidul Musnad, 5/ 136.

Ibnu Katsir setelah menyebutkan hadis ini berkata, "Sanadnya shahih kepadanya." (Yakni kepada Ubay bin Ka'ab). (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/98).

Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad. Rawi-rawinya adalah rawi-rawi Hadis shahih, kecuali Uttiy bin Dhamurah. Dia adalah rawi tsiqah." (Majmauz Zawaid, 8/199).

Hadis ini walaupun mauquf(sanadnya tidak sampai pada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam) pada Ubay bin Kaab, tetapi mempunyai kekuatan hadis marfu', karena perkara seperti ini tidak membuka peluang bagi akal untuk mengakalinya.

Penjelasan Hadis

Hadis ini menceritakan tentang bapak kita, Adam, manakala maut datang menjemputnya, Adam rindu buah surga. Ini menunjukkan betapa cinta Adam kepada surga dan kerinduannya untuk kembali kepadanya. Bagaimana dia tidak rindu surga, sementara dia pernah tinggal di dalamnya, merasakan kenikmatan dan keenakannya untuk beberapa saat.

Bisa jadi keinginan Adam untuk makan buah surga merupakan tanda dekatnya ajal. Sebagian hadis menyatakan bahwa Adam mengetahui hitungan tahun-tahun umurnya. Dia mengitung umurnya yang telah berlalu. Nampaknya dia mengetahui bahwa tahun-tahun umurnya telah habis. Perpindahannya ke alam akhirat telah dekat. Dan tanpa ragu, Adam mengetahui bahwa anak-anaknya tidak mungkin memenuhi permintaannya. Mana mungkin mereka bisa menembus surga lalu memetik buahnya. Anak-anak Adam juga menyadari hal itu. Akan tetapi, karena rasa bakti mereka kepada bapak mereka, hal itulah yang mendorong mereka untuk berangkat mencari.

Belum jauh anak-anak Adam meninggalkan bapaknya mereka telah dihadang oleh beberapa malaikat yang menjelma dalam wujud orang laki-laki. Mereka telah membawa perlengkapan untuk menyiapkan orang mati. Para malaikat memperagakan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah seperti pada hari ini. Mereka membawa kafan, wewangian, juga membawa kapak, cangkul, dan sekop yang lazim diperlukan untuk menggali kubur.

Ketika anak-anak Adam menyampaikan tujuan mereka dan apa yang mereka cari, para malaikat meminta mereka untuk pulang kepada bapak mereka, karena bapak mereka telah habis umurnya dan ditetapkan ajalnya.

Manakala para malaikat maut datang kepada Adam, Hawa mengenalinya sehingga dia berlindung kepada Adam. Sepertinya Hawa hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para rasul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan (antara kehidupan dunia dan akhirat-pent) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kepada kita. Adam tidak menggubris dan menghardiknya dengan berkata, "Menjauhlah dariku, karena aku pernah melakukan dosa karenamu." Adam mengisyaratkan rayuan Hawa untuk makan pohon yang dilarang semasa keduanya berada di Surga.

Para Malaikat mengambil ruh Adam. Mereka sendirilah yang mengurusi jenazahnya dan menguburkannya, sementara anak-anak Adam melihat mereka. Para malaikat itu memandikannya, mengkafaninya, memberinya wangi-wangian, menggali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalamnya, lalu mereka menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar dari kubur dan menimbunkan tanah kepadanya. Para Malaikat mengajarkan semua itu kepada anak-anak Adam. Mereka berkata, "Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian." Yakni, cara yang Allah pilih untuk kalian dalam hal mayat kalian.

Cara ini adalah syariat umum yang berlaku untuk seluruh rasul dan semua orang beriman di bumi ini, mulai sejak saat itu sampai sekarang. Dan cara apa pun yang menyelisihinya berarti menyimpang dri petunjuk Allah, yang besar kecilnya tergantung pada kadar penyimpangannya. Barangsiapa melihat tuntunan kaum muslimin dalam urusan jenazah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, niscaya dia pasti melihat kesamaan antara hal itu dengan perlakuan para malaikat kepada Adam.

Sepanjang sejarah, petunjuk ini telah banyak diselisihi oleh sebagian besar umat manusia. Ada yang membakar orang mati. Ada yang membangun bangunan-bangunan megah, seperti pyramid, untuk mengubur orang mati dengan meletakkan makanan, minuman, mutiara dan perhiasan bersamanya. Ada yang meletakkan mayit di kotak batu atau kayu. Semua itu menuntut biaya yang mahal dan hanya membuang-buang energi untuk sesuatu yang tidak berguna. Dan yang paling utama, semua itu telah menyelisihi petunjuk yang Allah syariatkan kepada mayit Bani Adam.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Disyariatkan menyiapkan mayit dan menguburkannya seperti disebutkan di dalam hadis.
  2. Sunnah–sunnah terhadap mayit yang demikian itu adalah petunjuk semua rasul dalam setiap syariat mereka.
  3. Pengajaran malaikat kepada anak-anak Adam tentang sunnah ini dengan ucapan dan perbuatan.
  4. Semua cara menangani mayit selain cara yang disebutkan di dalam hadis di atas adalah penyimpangan dari manhaj dan petunjuk Allah.
  5. Keutamaan bapak kita Adam, di mana para malaikat mengurusi jenazahnya, menshalatkannya dan menguburkannya.
  6. Kemampuan para malaikat untuk menjelma menjadi manusia dan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia.
  7. Sudah munculnya beberapa peralatan sejak zaman manusia pertama, seperti kapak, cangkul dan sekop.
  8. Seseorang harus berhati-hati terhadap isterinya yang bisa menjadi penyebab penyimpangannya. Adam memakan buah karena hasutan Hawa. Dan Allah telah meminta kita agar berhati-hati terhadap sebagian isteri dan anak-anak kita, "Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka." (At-Taghabun:14).

Sumber : Kitab Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, terjemah oleh Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 39-43.

Saturday, May 1, 2010

Sifat Para Malaikat yang Mengagumkan

Sayap Para Malaikat

Allah menciptakan para malaikat dan menjadikan mereka bersayap. Sayap para Malaikat berbeda-beda dari sisi jumlah dan besarnya.

Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu.”(QS Fathir: 1)
Yang dimaksud Allah menambahi dalam penciptaan apa yang Dia kehendaki sebagaimana dalam ayat di atas adalah menambah jumlah malaikat dan menambah jumlah sayap malaikat, sebagaimana yang Dia inginkan.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat malaikat Jibril memiliki 600 sayap.” (HR Muslim) Dalam riwayat Ahmad dinyatakan bahwa satu sayap malaikat Jibril itu sudah bisa menutupi ufuk.

Para malaikat tidaklah makan tidak pula minum. Tidak menikah, dan tidak pula berketurunan.

Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “Silahkan anda makan.” (QS Adz-Dzariat: 27)
Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah yang diutus kepada kaum Luth.”(QS Huud: 70)

Diriwayatkan dari Said bin Musayyib, beliau menyatakan bahwa para malaikat itu bukan laki-laki dan bukan perempuan, tidak makan, tidak minum, tidak menikah dan tidak berketurunan.

Malaikat juga mendengar, melihat, dan berbicara.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa para malaikat itu berdialog dengan Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalilnya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Baqarah: 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa para malaikat berbicara kepada Allah dan Allah pun mengajak bicara dengan mereka. Para malaikat mendengar firman Allah dan hal tersebut menyebabkan mereka pingsan.
Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab, “Yang benar,” dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS Saba’: 23)
Malaikat juga berbicara dengan manusia baik pada saat dalam rupa aslinya atau pun ketika berwujud manusia. Ketika dalam wujud manusia, maka orang yang diajak bicara oleh malaikat pun bisa menyaksikan rupa malaikat tersebut sebagaimana dalam hadits Jibril.
Terkadang pula Nabi bisa melihat malaikat, namun para shahabat yang berada di sekelilingnya tidak bisa melihatnya.
Diantara dalil hal tersebut adalah saat Nabi berkata kepada isterinya Aisyah, “Ini Malaikat Jibril, dia mengucapkan salam untukmu. Aisyah pun mengatakan engkau bisa melihat apa yang tidak bisa kami lihat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Malaikatpun berbicara dengan sesamanya, sebagaimana firman Allah dalam QS Saba’ ayat 23
Pada saat menjelaskan ayat tersebut Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya para malaikat turun ke awan, lalu menceritakan ketetapan yang sudah ditetapkan di langit.” Pembicaraan mereka ini kemudian dicuri oleh jin lalu disampaikan kepada para dukun.
Para Malaikat Tidak Pernah Merasa Capek dan Bosan

“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya”(QS al-Anbiya: 20)
“Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.” (QS Fushilat: 38)

Para malaikat juga merasakan kematian

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa semua makhluk hidup tak terkecuali malaikat itu akan merasakan kematian
‘Janganlah kamu sembah di samping Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS al-Qashash: 88)
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS Ar-Rahman: 26)
Pada saat seluruh makhluk sudah binasa Allahpun berseru, “Milik siapakah kerajaan pada hari ini.?” “Milik Allah Dzat yang Maha Esa lagi perkasa.” Jawabnya sendiri
“Hari mereka keluar ; tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (al-Mukmin: 16)
Para ulama’ ahli tafsir menyebutkan bahwa malaikat yang terakhir mati adalah malaikat kematian. Sedangkan malaikat yang pertama kali dibangkitkan dari kematian adalah malaikat peniup sangkakala.
Karakter Kejiwaan Para Malaikat
Terjaga dari maksiat
Allah menciptakan para malaikat dan memberikan tugas besar untuk mereka. Oleh karena itu malaikat ma’shum (terjaga) dari tindak maksiat, sehingga tatanan alam semesta ini tidak mengalami ketimpangan. Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)
“Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya..” (QS al-Anbiya” : 27)
Ada sebagian orang yang kebingungan mengenai kemakshuman para malaikat jika dihubungkan dengan surat al-Anbiya: 29, “Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.”
Jawaban tentang hal ini sebagaimana yang disampaikan Syaikh Syinqiti dalam tafsirnya. Beliau mengatakan, “Meskipun para malaikat adalah makhluk yang mulia dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, akan tetapi seandainya ada seorang malaikat yang mengaku sebagai ilah selain Allah tentu akan Allah siksa dengan api neraka. Kita semua mengetahui bahwasanya pengandaian itu mungkin terjadi dan adapula pengandaian yang tidak mungkin terjadi. Ayat yang semisal ini yang berisikan pengandaian yang tidak mungkin terjadi adalah dalam surat az-Zumar 65 yang artinya, “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan , niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
Kita semua sudah mengetahui bahwasanya para nabi itu terjaga dari melakukan kemusyrikkan. Ayat-ayat di atas (QS al-Anbiya 29 dan al-Zumar 65) dan ayat-ayat yang semakna, semuanya menunjukkan bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang berhak untuk disembah dan tidak boleh disekutukan. Disamping itu satu jenis ibadah pun tidak boleh diberikan kepada selain Allah, meskipun kepada malaikat yang sangat dekat dengan Alah, tidak pula seorang nabi sekaligus rasul.”
Ada juga orang yang kebingungan tentang kemakshuman malaikat jika dikaitkan dengan keengganan iblis untuk bersujud kepada Adam. Hal ini sebenarnya tidak perlu dibingungkan mengingat iblis bukanlah malaikat menurut pendapat yang benar. Ada juga yang meneruskan hal ini dengan Harut dan Marut yang mengajarkan sihir kepada banyak orang. Hal ini sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan jika kita menyadari bahwasanya apa yang dilakukan oleh Harut dan Marut itu atas perintah Allah sebagai cobaan dan ujian bagi manusia.
Berilmu
Allah berfirman, “Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (QS al-Baqarah: 32)
Allah juga membebani para malaikat dengan berbagai tugas di langit dan di bumi. Oleh karena itu tentu mereka memiliki ilmu berkenaan dengan tugas yang diberikan kepada mereka. Allah berfirman, “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada yang mengawasi, yang mulia dan mencatat ,” (QS al-Infithar: 10-11)
Berdebat
Allah berfirman yang artinya: “Ini adalah suatu rombongan yang masuk berdesak-desak bersama kamu. Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka.”(QS Shaad: 69)
Yang dimaksud berdebat dalam hal ini adalah berdialog dan saling membantah di antara sesama mereka.
Bershaf Di Sisi Allah
“Dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf . Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih .” (QS as-Shaffat: 165-166)
Nabi bersabda, “Tidakkah kalian bershaf sebagaimana para malaikat membuat barisan di sisi Rabbnya?” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shaf yang dibuat oleh para malaikat di sisi Rabbnya? Nabi bersabda, “Mereka menyempurnakan dan merapatkan shaf” (HR Muslim)
Safarah, Kiram, dan Bararah
Allah berfirman, “Di tangan para penulis, yang mulia lagi berbakti.” (QS Abasa: 15-16)
Yang dimaksud safarah adalah penghubung antara Allah dan para rasul serta para nabi
Secara bahasa safarah berarti memperbaiki. Sehingga para malaikat dijadikan sebagaimana duta yang memperbaiki keadaan suatu kaum pada saat mereka turun membawa wahyu Allah dan menyampaikannya. Sedangkan yang dimaksud kiram adalah ciri fisik mereka yang bagus mulia dan terpuji. Sedangkan yang dimaksud dengan bararah adalah akhlak dan perbuatan para malaikat itu suci dan sempurna.
Dari Aisyah Rasulullah bersabda, “Permisalan orang yang pandai membaca al-Quran adalah bersama para malaikat yang safarah, kiram, dan bararah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Memiliki rasa takut kepada Allah
“Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan yang maha keras siksa-Nya.” (QS ar-Ra’du: 13)
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS al-Mukmin: 57)
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Ausath dengan sanad yang hasan dari Jabir. Rasulullah bersabda, “Pada saat malam Isra’ Mi’raj aku melewati Mala’ A’la (para malaikat) sedangkan Jibril bagaikan tikar karpet yang usang karena demikian takut kepada Allah
Merasa Malu
Nabi bersabda mengenai Utsman, “Tidakkah aku merasa malu terhadap seseorang (Utsman) yang para malaikat merasa malu terhadapnya. (HR Bukhari).

WaLlahu Ta'ala a'lam...

sumber : ustadzaris.com/