Thursday, June 3, 2010

Jangan Hanya Bisa Menunutut

"Ingatlah wahai istriku, surgamu berada di bawah telapak kakiku….!!!, kamu harus taat kepadaku…!!!"
Demikianlah ucapan yang mungkin terlontarkan dari mulut seorang suami yang menuntut istrinya agar menjadi seorang istri yang sholehah dan selalu nurut kepadanya. Ucapan yang dilontarkan suami tersebut adalah perkataan yang benar. Bukankah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :


لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Kalau seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya” (HR AT-Thirmidzi no 1159, Ibnu Majah no 1853 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (Lihat As-Shahihah no 3366))
Pernah ada seorang wanita yang datang menemui Nabi karena ada suatu keperluan, lantas Nabi berkata kepada wanita tersebut,
هذه أذات بعل ؟ "Apakah engkau bersuami?", wanita itu menjawab, "Iya". Lantas Nabi bertanya lagi, كيف أنت له ؟"Bagaimana sikap engkau terhadap suamimu?, wanita itu berkata, ما آلوه إلا ما عجزت عنه "Aku berusaha keras untuk melayani dan taat kepadanya, kecuali pada perkara yang tidak aku mampui". Nabi berkata, فانظري أين أنت منه ؟ فإنما هو جنتك ونارك "Lihatlah bagaimana engkau di sisinya, sesungguhnya suamimu itu surgamu dan nerakamu"

(Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albani)



Jika seorang wanita telah menikah maka surganya telah berpindah dari telapak kaki ibunya ke telapak kaki suaminya.

Akan tetapi kita bertanya kepada sang suami, apakah dia telah menunaikan seluruh tugas dan kewajibannya sebagai suami?, apakah dia sendiri adalah seorang suami yang sholeh dan berakhlak mulia? Apakah dia telah menunaikan hak-hak istrinya tersebut??
Kalau jawabannya adalah : "IYA", maka jelas dia berhak untuk menuntut istrinya dengan kata-kata di atas.
Akan tetapi jika jawabannya : "TIDAK", atau mungkin sang suami malu-malu untuk mengatakan tidak, sehingga dirubah jawabannya menjadi : "BELUM", maka….sungguh sang suami ternyata hanya bisa menuntut.
Hendaknya sebelum dia menuntut dia bercermin terlebih dahulu…
Sebelum dia menununtut agar istrinya senantiasa berpenampilan ayu, apakah sang suami juga telah menjaga penampilannya dihadapan istrinya…???
Ataukah hanya menjaga penampilannya tatkala berhadapan dengan para sahabatnya???
Bukankah Allah berfirman
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. (QS Al Baqarah 228)

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata tatkala menafsirkan firman Allah :


وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١)الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢)وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣)أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (٤)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (٥)يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (٦)

1. kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang

2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,

3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

4. tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

5. pada suatu hari yang besar,

6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

"Permisalan ini yang Allah buat tentang ukuran dan timbangan adalah sebuah permisalan, dan permisalan ini bisa diqiaskan kepada perkara-perkara yang serupa dengannya. Setiap orang yang menuntut hak-haknya secara sempurna akan tetapi menunaikan tugasnya (tidak menunaikan hak orang lain) maka ia juga termasuk dalam ayat yang mulia ini.
Sebagai contoh seorang suami yang ingin agar istrinya menunaikan hak-haknya secara sempurna, dan agar sang istri perhatian dan tidak meremehkan hak-hak sang suami, akan tetapi sang suami sendiri meremehkan hak-hak istrinya, tidak memberikan hak-hak istrinya. Sungguh betapa banyak istri yang mengeluh dan mengadukan suami-suami yang semacam ini modelnya…
Demikian juga kita dapati sebagian orang menuntut agar anak-anaknya melaksanakan kewajibannya dengan sempurna sebagai anak terhadap orang tua, akan tetapi sang orang tua tidak menunaikan hak anak-anaknya dengan baik. Sang orang tua ingin agar anak-anaknya berbakti kepadanya dan melaksanakan tugas mereka sebagai anak di hadapan orang tua mereka, akan tetapi dia sang orang tua itu sendiri tidak memperhatikan anak-anaknya dengan baik, tidak menunaikan kewajibannya sebagai orang tua terhadap anak-anak. Orang yang seperti ini kita katakana juga sebagai Muthoffif (orang yang curang)" (lihat tafsir juz 'amma)
Sebagaimana ayat ini merupakan ancaman keras yang berupa kecelakaan bagi para suami yang tidak menuaikan hak istri-istri mereka, demikian juga sebaliknya merupakan ancaman keras kepada para istri yang hanya bisa banyak menunutut kepada suami-suami mereka sementara mereka lupa untuk menunaikan hak-hak suami mereka yang sangat agung.
Sebagaimana perkataan Syaikh Utsaimin rahimahullah diatas bahwa yang termasuk dalam ayat ini adalah semua orang yang hanya bisa menuntut haknya namun tidak mau melaksanakan kewajibannya, dan tidak mau menunaikan hak orang lain.
Kita dapati betapa banyak masyarakat yang menuntut agar negara bisa memberikan pelayanan dan fasilitas yang terbaik bagi masyarakat, bahkan hampir setiap kerusuhan dan kekacauan disandarkan kepada Negara –dan kita tidak tahu hakekat penyebab yang sebenarnya-, akan tetapi yang menjadi pertanyaan :"Apakah masyarakat para penuntut tersebut sudah melaksanakan keweajiban mereka sebagai warga Negara yang baik?, apakah mereka sudah menuaikan hak Negara (penguasa) dengan baik…???
Memang benar…, menuntut itu merupakan perkara yang mudah, anak kecilpun bisa melakukannya. Akan tetapi melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak orang lain merupakan perkara yang tidak semudah dibayangkan. Semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang curang yang terancam dengan kecelakaan. Aamiin…

WaLlahu Ta’ala a’lam

Sumber : www.firanda.com/

Wednesday, June 2, 2010

Ibadah 500 Tahun

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju kami, lalu bersabda, 'Baru saja kekasihku Malaikat Jibril keluar dariku dia memberitahu, 'Wahai Muhammad, Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran. Sesungguhnya Allah memiliki seorang hamba di antara sekian banyak hambaNya yang melakukan ibadah kepadaNya selama 500 tahun, ia hidup di puncak gunung yang berada di tengah laut. Lebarnya 30 hasta dan panjangnya 30 hasta juga. Sedangkan jarak lautan tersebut dari masing-masing arah mata angin sepanjang 4000 farsakh. Allah mengeluarkan mata air di puncak gunung itu hanya seukuran jari, airnya sangat segar mengalir sedikit demi sedikit, hingga menggenang di bawah kaki gunung.

Allah juga menumbuhkan pohon delima, yang setiap malam mengeluarkan satu buah delima matang untuk dimakan pada siang hari. Jika hari menjelang petang, hamba itu turun ke bawah mengambil air wudhu’ sambil memetik buah delima untuk dimakan. Kemudian mengerjakan shalat. Ia berdoa kepada Allah Ta’ala jika waktu ajal tiba agar ia diwafatkan dalam keadaan bersujud, dan mohon agar jangan sampai jasadnya rusak dimakan tanah atau lainnya sehingga ia dibangkitkan dalam keadaan bersujud juga. Demikianlah kami dapati, jika kami lewat dihadapannya ketika kami menuruni dan mendaki gunung tersebut.

Selanjutnya, ketika dia dibangkitkan pada hari kiamat ia dihadapkan di depan Allah Ta’ala, lalu Allah berfirman, 'Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu.' Hamba itu membantah, 'Ya Rabbi, aku masuk Surga karena perbuatanku.'

Allah Ta’ala berfirman, 'Masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga karena rahmatKu.' Hamba tersebut membantah lagi, 'Ya Rabbi, masukkan aku ke surga karena amalku.'

Kemudian Allah Ta’ala memerintah para malaikat, 'Cobalah kalian timbang, lebih berat mana antara kenikmatan yang Aku berikan kepadanya dengan amal perbuatannya.'

Maka ia dapati bahwa kenikmatan penglihatan yang dimilikinya lebih berat dibanding dengan ibadahnya selama 500 tahun, belum lagi kenikmatan anggota tubuh yang lain. Allah Ta’ala berfirman, 'Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke Neraka!'

Kemudian ia diseret ke dalam api Neraka. Hamba itu lalu berkata, 'Ya Rabbi, benar aku masuk Surga hanya karena rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam SurgaMu.'

Allah Ta’ala berfirman, 'Kembalikanlah ia.'

Kemudian ia dihadapkan lagi di depan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala bertanya kepadanya, 'Wahai hambaKu, Siapakah yang menciptakanmu ketika kamu belum menjadi apa-apa?'
Hamba tersebut menjawab, 'Engkau, wahai Tuhanku.'

Allah bertanya lagi, 'Yang demikian itu karena keinginanmu sendiri atau berkat rahmatKu?'
Dia menjawab, 'Semata-mata karena rahmatMu.'

Allah bertanya, 'Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu sehingga kamu mampu mengerjakan ibadah selama 500 tahun?'

Dia menjawab, 'Engkau Ya Rabbi.'

Allah bertanya, 'Siapakah yang menempatkanmu berada di gunung dikelilingi ombak laut, kemudian mengalirkan untukmu air segar di tengah-tengah laut yang airnya asin, lalu setiap malam memberimu buah delima yang seharusnya berbuah hanya satu tahun sekali? Di samping itu semua, kamu mohon kepadaKu agar Aku mencabut nyawamu ketika kamu bersujud, dan aku telah memenuhi permintaanmu!?'
Hamba itu menjawab, 'Engkau ya Rabbi.'

Allah Ta’ala berfirman, 'Itu semua berkat rahmatKu. Dan hanya dengan rahmatKu pula Aku memasukkanmu ke dalam Surga. Sekarang masukkanlah hambaKu ini ke dalam Surga! HambaKu yang paling banyak memperoleh kenikmatan adalah kamu wahai hambaKu.' Kemudian Allah Ta’ala memasukkanya ke dalam Surga."

Jibril ‘Alaihis Salam melanjutkan, "Wahai Muhammad, sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi hanya berkat Rahmat Allah Ta’ala." (HR. Al-Hakim, 4/250.)

Sumber : Kitab “99 Kisah Orang Shalih” karya Muhammad bin Hamid Abdul Wahab

Tuesday, June 1, 2010

Keyakinan Muslim Sejati

إِنْ كَانَ تَابِعُ أَحْمَدٍ مُتَوَهِّبًا
فَأَنَا الْمُقِرُّ بِأَنَّنِيْ وَهَّابِيْ

Jika pengikut setia Ahmad1) dijuluki WAHABI2)
Maka aku adalah seorang wahabi

أَنْفِي الشَّرِيْكَ عَنِ اْلإِلَهِ فَلَيْسَ لِيْ
رَبٌّ سِوَى الْمُتَفَرِّدِ اْلوَهَّابِ

Kutolak sekutu bagi Allah, bagiku
Tiada Ilah selain Yang Maha Tunggal AL-WAHHAB3)

لاَ قُبَةٌ تُرْجَى وَلاَ وَثَنٌ وَلاَ
قَبْرٌ لَهُ سَبَبٌ مِنَ اْلأَسْبَابِ

Bukan kubah, berhala maupun kuburan
Yang diharapkan sebagai penyebab segala sesuatu

كَلاَّ وَلاَ حَجَرٌ، وَلاَ شَجَرٌ وَلاَ
عَيْنٌ وَلاَ نُصُبٌ مِنَ اْلأَنْصَابِ

Sekali bukan tetap bukan, demikian juga
Bukan batu, pohon, mata air4) dan monumen5)

أَيْضًا وَلَسْتُ مُعَلِّقًا لِتَمِيْمَةِ
أَوْ حَلَقَةٍ، أَوْ وَدْعَةٍ أَوْ نَابِ

Juga, aku tidak menggantungkan jimat,
Gelang, kerang undian atau taring6)

لِرَجَاءِ نَفْعٍ، أَوْ لِدَفْعِ بَلِيَّةٍ
اللهُ يَنْفَعُنِيْ، وَيَدْفَعُ مَا بِيْ

Tuk dapatkan manfaat atau tolak petaka
Allah sajalahYang memberi manfaat dan menghilangkan petaka

وَاْلاِبْتِدَاعُ وَكُلُّ أَمْرٍ مُحْدَثٍ
فِي الدِّيْنِ يُنْكِرُهُ أُوْلُو اْلأَلْبَابِ

Bid’ah dan perkara baru dalam agama
Diingkari oleh orang-orang yang berakal7)

أَرْجُوْ بِأَنِّيْ لاَ أَقَارِبُهُ وَلاَ
أَرْضَاهُ دِيْنًا، وَهُوَ غَيْرُ صَوَابِ

Aku tidak ingin mendekatinya dan
Tidak meridhainya sebagai agama, itu adalah keliru

وَأَعُوْذُ مِنْ جَهْمِيَّةٍ عَنْهَا عَتَتْ
بِخِلاَفِ كُلِّ مُؤَوِّلِ مُرْتَابِ

Akupun berlindung dari Jahmiyyah8) yang membangkang
Aku menyelisihi setiap penyeleweng makna lagi ragu9)

وَاْلاِسْتِوَاءُ فَإِنَّ حَسْبِيْ قُدْوَةٌ
فِيْهِ مَقَالُ السَّادَةِ اْلأَنْجَابِ

Adapun istiwa’10), maka cukup bagiku sebagai teladan
Pendapat para tokoh yang mulia

الشَّافِعِي وَمَالِكٍ وَأَبِيْ حَنِيْـ
ـفَةَ وَابْنِ حَنْبَلِ التَّقِيِّ اْلأَوَّابِ

Asy-Syafi’i, Malik, Abu Hanifah
Dan Ibnu Hambal yang bertakwa lagi terhormat

وَبِعَصْرِنَا مَنْ جَاءَ مُعْتَقِدًا بِهِ
صَاحُوْا عَلَيْهِ مُجَسِّمٌ وَهَّابِيْ

Adapun di zaman kita, siapa saja yang berkeyakinan
Seperti keyakinan mereka, dijuluki mujassim11) wahabi

جَاءَ الْحَدِيْثُ بِغُرْبَةِ اْلإِسْلاَمِ فَلْـ
يَبْكِ الْمُحِبُّ لِغُرْبَةِ اْلأَحْبَابِ

Hadits telah memberitakan tentang asingnya Islam
Maka menangislah pecinta kebenaran, karena sedikitnya teman

فَاللَّهُ يَحْمِيْنَا، وَيَحْفَظُ دِيْنَنَا
مِنْ شَرِّ كُلِّ مُعَانِدٍ سَبَّابِ

Allah-lah Yang melindungi kita dan menjaga agama kita
Dari kejahatan setiap penentang lagi pencela

وَيُؤَيِّدُ الدِّيْنَ الْحَنِيْفَ بِعُصْبَةٍ
مُتَمَسِّكِيْنَ بِسُنَّةٍ وَكِتَابِ

Dia-lah Yang menguatkan agama nan lurus, dengan perantaraan
Suatu kelompok yang berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan Sunnah

لاَ يَأْخُذُوْنَ بِرَأْيِهِمْ وَقِيَاسِهِمْ
وَلَهُمِ إِلَى اْلوَحْيَيْنِ خَيْرُ مَآبِ

Tidak mendahulukan akal dan qiyas mereka
Bagi mereka, kedua wahyu adalah sebaik-baik pedoman

قَدْ أَخْبَرَ الْمُخْتَارُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ
غُرَبَاءُ بَيْنَ اْلأَهْلِ وَاْلأَصْحَابِ

Sang terpilih12) telah memberitakan keadaan mereka
Merekalah orang-orang yang dikucilkan oleh keluarga dan teman

سَلَكُوْ طَرِيْقَ السَّالِكِيْنَ إِلَى الْهُدَى
وَمَشَوْا عَلَى مِنْهَاجِهِمْ بِصَوَابِ

Meniti jalan para pencari hidayah
Meneladani prinsip mereka dengan benar

مِنْ أَجَلِ ذَا أَهْلُ اْلغُلُوِّ تَنَافَرُوْا
عَنْهُمْ فَقُلْنَا لَيْسَ ذَا بِعُجَابِ

Karena itulah orang-orang ekstrim memusuhi mereka
Maka kami katakan, bahwa hal itu tidaklah mengherankan

نَفَرَ الَّذِيْنَ دَعَاهُمْ خَيْرُ اْلوَرَى
إِذْ لَقَّبُوْهُ بِسَاحِرٍ كَذَّابِ

Telah lari orang-orang yang diseru sebaik-baik manusia (Rasulullah)
Bahkan mereka menjulukinya sebagai penyihir lagi pendusta

مَعَ عِلْمِهِمْ بِأَمَانَةٍ وَدِيَانَةٍ
فِيْهِ وَمَكْرَمَةٍ، وَصِدْقِ جَوَابِ

Meski mereka tahu tentang ketinggian amanah dan agamanya
Kemuliaan dan kejujuran jawabannya

صَلَّى عَلَيْهِ اللَّهُ مَا هَبَّ الصَّبَا
وَعَلَى جَمِيْعِ اْلآلِ وَاْلأَصْحَابِ

Semoga sholawat Allah tercurah atasnya selama angin Shoba13) berhembus
Demikian juga atas segenap keluarga dan sahabatnya.

————————————

1. Yakni: Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam yang salah satu nama beliau adalah Ahmad.

2. Nisbat dan penyematan kepada Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab, ulama reformis di jazirah arab.

3. Salah satu nama Allah yang bermakna Maha Memberi.

4. Mata air yang dipakai mandi untuk tabarruk dan penyembuhan suatu penyakit.

5. Yakni : Monumen yang beralih fungsi menjadi berhala yang diibadahi selain Allah.

6. Dua benda terakhir yang disebutkan, banyak digantungkan pada kapal sebagai usaha meraih keberuntungan.

7. Karena agama ini telah sempurna, kenapa masih ditambahi?

8. Kelompok sesat yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, bahkan berpendapat bahwa Allah dimana-mana. Na’uudzubillaah min dzalik, apakah Allah juga berada di tempat sampah, kotor lagi najis?? Padahal Allah berfirman : (Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. Thoha : 5)

9. Yakni : terhadap nama dan sifat Allah.

10. Yakni : perkara bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy, sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an surat Thoha : 5.

11. Kelompok sesat yang menganggap Allah memiliki badan persis dengan makhluk-Nya.

12. Yakni : Rasulullah yang telah dipilih oleh Allah dari sekian banyak makhluk-Nya.

13. Angin pagi yang sepoi-sepoi.

Sumber : Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 59, hal 56-57, dialihbahasakan dari karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu

Sunday, May 30, 2010

Nilai-Nilai Ketauhidan dari Surah Al-Fatihah

Oleh : Abu Muhsin Maryono

Telah maklum bagi kita bahwa tauhid terbagi menjadi tiga. Pertama, Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam setiap perbuatan seorang hamba, seperti berdoa, beristghosah, menyembelih, nadzar dll. Ke dua Tauhid Rububiyyah adalah mentahidkan Allah dalam setiap perbuatan-Nya, seperti menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan dll. Ke tiga, Tauhid Asma Wa Sifat adalah menetapkan terhadap apa-apa yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya dan yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya dari nama-nama dan sifat-sifat Allah atas segi yang berkaitan dengan kesempurnaan dan ketinggian Allah, tanpa menyerupakan atau membagaimanakan, dan tanpa merubah atau meniadakan.

Pembagian tauhid menjadi tiga, terdefinisikan atas dasar pembacaan dari Nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam uraian ringkas ini kita akan melihat bagaimana tauhid tersebut ada dalam salah satu surah dari surah-surah yang ada dalam al-Qur’an, yaitu surah pembuka, surah al-Fatihah yang telah banyak dihafal oleh kaum muslimin sedunia. Uraian ini kami nukil dari kitab Qotfu al-Jana ad-Dani Syarh Muqoddimah Risalah Ibn Abi Zaid al-Qoirawani oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abbad Al-Badr –hafidhohullah- hal 56-58. Semoga bermanfaat.

Ayat pertama:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Ayat Alhamdulillahi Rabbil alamin di dalamnya tercakup atas berbagai jenis tauhid, yaitu Alhamdu liLLAH, di dalamnya terkandung tauhid uluhiyyah, karena penisbatan sebuah pujian (alhamdu) kepada Allah oleh seorang hamba adalah sebuah ibadah. Dan kata Rabbil alamin adalah penetapan tauhid rububiyyah, pada dasarnya Allah adalah Tuhan semesta alam, dan alam adalah segala sesuatu kecuali Allah, karena tidak ada di alam semesta ini kecuali pencipta dan ciptaan, dan Allah adalah Sang Pencipta, dan segala sesuatu selain San Pecipta adalah yang dicipta atau makhluk. Dan di antara nama-nama Allah adalah Ar-Rabb.

Dalam ayat ini Syaikh –hafidhohullah- menerangkan bahwa telah tercakup di dalamnya tauhid uluhiyyah, rububiyyah dan asma wa Sifat. Uluhiyyah dalam Alhamdu liLLAH, Rububiyyah dan Asma wa Sifat dalamRabbil alamin.

Ayat selanjutnya yaitu firman Allah:

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini mengandung tauhid Asma wa Sifat, ar-Rahman dan ar-Rahim merupakan dua nama dari nama-nama Allah, dua nama tersebut menunjukkan atas sifat dari sifat-sifat Allah, yaitu sifat kasih sayang. Nama-nama Allah secara keseluruhan diambil dari kata musytaq, dan bukan dari kata jamid, dan setiap nama dari nama-nama Allah menunjukkan atas sifat dari sifat-sifat Allah.

Syaikh –hafidhahullah- menerengkan bahwa ar-Rahman dan ar-Rahim merupakan nama dari nama-nama Allah, maka secara jelas bahwa ayat ini mengandung tauhid asma wa sifat, ayat ini mengajari kita tauhid asma wa sifat. Diterangkan juga bahwa nama Allah diambil dari kata musytaq, dan bukan dari kata jamid, dalam bahasa arab, menurut asal kata dan pembentukannya, Isim atau Kata Benda terbagi dua:

1. Isim Jamid, yaitu Isim yang tidak terbentuk dari kata lain. Contoh الكرسي

2. Isim Musytaq, yaitu Isim yang dibentuk dari kata lain. Contoh الرحمان diambil dari رحم

Maka dalam hal ini pentingnya bahasa arab dalam memahami agama Islam.

Diterangkan juga oleh Syaikh bahwa setiap nama dari nama-nama Allah itu mengandung sifat dari sifat-sifat Allah. Maka nama Allah pasti mengandung sifat dan sifat Allah tidak mengandung nama Allah.

Ayat selanjutnya:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“yang menguasai hari Pembalasan.”

Di dalamnya terdapat penetapan tauhid Rububiyah, yaitu bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- Raja/yang menguasai dunia dan akhirat, sedangkan pengkhususan yang merajai hari pembalasan, sebab Allah adalah yang berkuasa pada saat itu, dan sebab pada saat itu semua makhluk di alam semesta tunduk pada Rabb semesta alam yaitu Allah. Sebaliknya di dunia, didapati orang yang sombong yang mengaku paling berkuasa, semisal apa yang dikatakan oleh Fir’aun: “Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi”

Ayat berikutnya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan”.

Dalam ayat ini terdapat penetapan tauhid Uluhiyah, sebab ayat ini berkenaan dengan penyembahan dan permintaan pertolongan yang mana hal tersebut merupakan bentuk-bentuk ibadab yang hanya ditujukan atau diperuntukkan bagi Allah semata. Dan pada ayat mengawalkan obyek pada kalimat yaitu إياك berfaedah pada pengkhususan, maknanya: kami mengkhususkan peribadatan dan permintaan tolong hanya kepada-Mu, dan kami tidak menyekutukan Engkau dengan sesuatupun.

Ayat berikutnya:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7

“Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Penetapan tauhid Uluhiyah, karena permohonan hidayah dari Allah adalah doa, dan Rasulullah saw bersabda: “Doa adalah ibadah”, permintaan hamba kepada Rabbnya dalam doa ini agar diberi hidayah kepada jalan yang lurus, jalannya para Nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang syahid, dan orang-orang yang shalih, yang mana mereka merupakan Ahlu Tauhid, dan memohon agar dijauhkan dari jalan yang dimurkai dan dijauhkan dari jalan mereka yang sesat, mereka yang kosong dari ketauhidan, melekat pada mereka kesyirikan kepada Allah dan beribadah kepada selain Allah.

Wallahu ta’ala a’lam

Sumber : majalahislami.com/